Coronavirus baru (Covid-19) sudah dapat diobati?

Menginjak bulan februari 2020, sudah sekitar 2 bulan virus corona jenis baru yang dinamakan nCoV 2019 (novel coronavirus 2019) / Covid-19 menelan begitu banyak korban, dengan jumlah terinfeksi paling sedikit 20000 dan korban meninggal dunia di atas 500, dengan cakupan dan jangkauan mencapai lebih dari 20 negara, tingkat kerugian ini sudah melebihi jumlah kerugian yang diakibatkan SARS (sumber) walaupun angka rasio kematiannya lebih kecil. Meskipun jumlah korban yang timbul cukup tragis, namun kini secercah harapan dengan berita baik yang muncul dari Thailand, maupun dari China, yang merupakan pusat awal penularan virus baru ini (sumber), yaitu berita adanya terapi yang cukup efektif dan menunjukkan hasil menjanjikan bagi para pasien Covid-19 ini, maupun pengumuman dari Geneva oleh WHO (World Health Organization) yang menyatakan vaksin akan tersedia sekitar 18 bulan (setelah artikel ini diterbitkan).

Terobosan awal di Thailand 

Campuran kombinasi beberapa obat antivirus menunjukkan potensi keefektifan dalam menangani pasien sakit berat yang terinfeksi virus korona baru yang disebabkan oleh virus yang dinamakan oleh WHO sebagai virus SARS-COV2 yang menyebar di dunia saat ini, demikian dikatakan seorang pejabat kesehatan Thailand pada tanggal 3 februari 2020.
Kombinasi obat tersebut terdiri dari obat-obatan HIV yaitu lopinavir dan ritonavir, yang dijual oleh AbbVie Inc. dengan nama dagang Kaletra, digunakan pada tiga pasien bersama dengan obat anti-flu oseltamivir, yang dijual oleh Roche Holding AG dan Chugai Pharmaceutical Co. sebagai Tamiflu, demikian diungkapkan Somkiat Lalitwongsa, direktur Rumah Sakit Rajavithi di Bangkok.

Kaletra sendiri sedang dipelajari dalam sebuah uji randomized, controlled trial - standar emas untuk menguji produk medis baru - pada pasien coronavirus di kota Wuhan, propinsi Hubei, Cina, di mana wabah ini berasal (sumber). Para dokter Thailand memberikan obat flu karena penelitian menunjukkan bahwa itu membantu beberapa pasien yang menderita coronavirus yang lebih mematikan yang menyebabkan sindrom pernapasan Timur Tengah (sumber) , atau MERS (Middle East respiratory syndrome). Sebuah studi oleh para peneliti di Perancis merekomendasikannya (Tamiflu) untuk digunakan pada pasien dengan MERS, tetapi dihentikan jika tes menunjukkan mereka tidak menderita flu (sumber).

"Belum terdapat cukup bukti untuk membuat keputusan efektivitas," ujar Somkiat. “Tetapi kami melaporkan untuk berkontribusi pada komunitas medis secara global. Hasilnya terlihat bagus sejauh ini. ”

Dari tiga pasien di Thailand yang memulai terapi kombinasi tiga obat unik ini, dua terus menerima obat, kata Somkiat. Pengobatan dihentikan pada satu pasien yang mengalami ruam. Salah satu dari dua yang terus menerima obat-obatan telah dites negatif untuk coronavirus Wuhan, katanya.

"Karena belum ada prosedur standar, kami sedang mencoba kombinasi obat baru," kata Somkiat.

Tidak ada obat, termasuk Tamiflu, telah disetujui untuk mengobati coronavirus, dan Tamiflu ditujukan khusus untuk virus flu, menurut Roche. Baik Tamiflu maupun Xofluza, obat flu Roche lain, tidak akan efektif dalam mengobati coronavirus Wuhan, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan. Roche berkomitmen untuk mendukung Organisasi Kesehatan Dunia dan kelompok-kelompok lain dengan keahlian dan nasihat tentang coronavirus dan pencegahan pandemi, lebih lanjut tercantum dalam pernyataan itu.

Thailand tercatat memiliki 19 kasus virus yang dikonfirmasi, virus yang disebut juga 2019-nCoV ini. Sebelas pasien dirawat di rumah sakit dan sisanya telah kembali ke rumah. Negara itu juga memantau / observasi 311 orang untuk kemungkinan terinfeksi pada berbagai rumah sakit, menurut pernyataan kementerian kesehatan Thailand.

100 orang warga Thailand telah dipulangkan dari Wuhan, Hubei pada 4 Februari setelah mereka melewati pemeriksaan medis di China, kata Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat Anutin Chanvirakul, Minggu. Mereka kemudian menjalani karantina selama 14 hari setelah kembali ke Thailand.


Kombinasi Remdesivir + Chloroquine

China telah memulai rangkaian uji klinis dengan cepat untuk menguji obat infeksi coronavirus baru dengan memburu waktu ketika negara itu dihadapkan dengan tingkat penyebaran yang tinggi dan cepat, diharapkan oleh pemerintah china uji klinis ini dapat menemukan terapi untuk mereka yang terinfeksi dan mencari vaksin untuk melindungi sisa populasinya.

Remdesivir, sebuah obat antivirus baru yang diproduksi oleh Gilead Sciences Inc. yang semula ditujukan untuk penyakit menular seperti Ebola dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), akan diuji oleh tim medis dari Rumah Sakit Persahabatan China-Jepang yang berbasis di Beijing untuk efektifitas dan kemanjuran dalam mengobati jenis baru virus coronavirus yang mematikan, ungkap seorang juru bicara rumah sakit tersebut.

Uji coba untuk obat ini akan dilakukan di kota Wuhan di Cina tengah - titik pusat dari wabah virus yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 500 orang, membuat lebih dari 20.000 orang sakit di China dan menyebar ke lebih dari selusin negara. Sebanyak 270 pasien dengan pneumonia ringan dan sedang yang disebabkan oleh virus akan direkrut dalam studi acak, tersamar ganda dan terkontrol placebo (randomized, double-blinded and placebo-controlled).

Namun demikian, patut dicatat obat eksperimental pertama yang digunakan melawan Ebola, termasuk remdesivir dan ZMapp dari Mapp Biopharmaceutical Inc., pada akhirnya memberikan hasil yang mengecewakan.

Masih belum ada pengobatan yang disetujui dan disepakati bersama untuk mereka yang terinfeksi Ebola, bahkan lebih dari lima tahun setelah mereka pertama kali diberikan (antivirus tersebut) kepada pasien dengan dasar belas kasih karena tidak ada lagi terapi yang tersedia.

Harapan untuk penggunaan obat ini (remdesivir) telah didukung oleh laporan bahwa pasien pertama di AS yang terinfeksi virus, seorang pria negara bagian Washington berusia 35 tahun, melihat pneumonianya membaik setelah ia diberikan remdesivir, kata para dokter yang merawatnya dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine.

Tetapi kemungkinan masih terlalu dini untuk mengucapkan terima kasih terhadap obat tersebut atas perbaikan gejala dalam kasus itu, menurut analis di Raymond James. Virus memang sudah mulai surut sebelum pasien diberi obat tersebut, mereka menulis dalam sebuah catatan.

Produsen obat seperti GlaxoSmithKline Plc. serta otoritas Cina berlomba dengan waktu untuk mengembangkan vaksin dan terapi untuk memerangi virus baru yang lebih menular daripada SARS ini yang dapat merugikan ekonomi global empat kali lebih banyak daripada $ 40 miliar yang dihabiskan oleh wabah SARS 2003. Keputusan untuk mengadakan uji coba manusia untuk remdesivir menunjukkan bahwa itu adalah salah satu terapi yang paling menjanjikan terhadap virus yang sejauh ini tidak memiliki perawatan atau vaksin khusus.

"Gilead tampaknya sekarang berada di antara yang terdepan dalam mengembangkan pengobatan untuk virus corona," ungkap Mohit Bansal, seorang analis dengan CitiGroup Inc., dalam sebuah catatan kepada klien. Dia mengatakan dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk produk apa pun untuk mencapai pasar, tetapi bahwa "kita bisa melihat peluang komersial untuk Gilead dalam jangka panjang juga, karena biasanya negara-negara menimbun obat-obatan tersebut untuk melindungi dari wabah di masa depan."



Remdesivir masih berupa obat percobaan

Obat percobaan ini belum disetujui untuk digunakan oleh regulator obat mana pun di dunia tetapi sedang digunakan pada pasien yang berjuang melawan virus baru dengan tidak adanya pilihan pengobatan lain yang disetujui, kata Gilead dalam sebuah pernyataan pekan lalu (sumber). Gilead bekerja dengan otoritas kesehatan di China untuk membuat percobaan untuk menentukan apakah remdesivir dapat digunakan secara aman dan efektif untuk infeksi ini, kata mereka dalam pernyataan tersebut.

Regulator kesehatan China juga merekomendasikan Kaletra obat HIV dari AbbVie Inc. sebagai obat antivirus ad-hoc untuk coronavirus (sumber). Kaletra juga dikatakan akan menjalani uji coba pada manusia.

Sementara itu, pencarian global berlanjut untuk terapi yang dapat menahan infeksi yang dapat menyebar tanpa terdeteksi ini (sumber).

Johnson & Johnson dikatakan telah memprakarsai pekerjaan pada vaksin coronavirus yang preventif dan memiliki "lusinan ilmuwan" yang sedang mengerjakannya, ungkap Kepala Staf Ilmiah Paul Stoffels bulan lalu. GlaxoSmithKline dan Koalisi untuk Inisiasi Kesiapsiagaan Epidemi (the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) mengatakan mereka akan bekerja untuk mempercepat pembuatan vaksin dan kemudian menyediakan dosis dengan cepat.

Koalisi ini, yang didirikan pada 2017 dengan tujuan memacu pengembangan obat injeksi untuk penyakit yang diketahui dan untuk merespons virus baru, juga telah menandatangani kontrak dengan pembuat obat termasuk Moderna Inc. dan Inovio Pharmaceuticals Inc. sejak 22 Januari untuk mempercepat kerja pada vaksin ini. Novavax Inc. adalah salah satu yang pertama mengumumkan bahwa mereka juga sedang bekerja untuk membuat kandidat vaksin.



Remdesivir sementara masih merupakan perawatan garis depan

Dalam situasi saat ini, pejabat kesehatan China mengatakan versi vaksin mungkin membutuhkan tiga bulan untuk tersedia pada tahap pertama pengujian manusia sambil mengembangkan vaksin yang efektif umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ini menempatkan remdesivir di garis depan memerangi infeksi ini.

Uji coba di Cina dapat mengarah pada persetujuan remdesivir jalur cepat oleh regulator obat Cina, yang dalam beberapa kasus merupakan salah satu insiden proses yang tercepat di dunia. Namun dengan langkah yang cenderung terburu-buru ini hendaknya tidak mengganggap ringan studi mengenai pentingnya menentukan dosis terapi aman yang tepat serta mempelajari efek samping yang dapat ditimbulkan. Undang-undang Narkoba Tiongkok sekarang mengizinkan persetujuan bersyarat untuk obat-obatan dengan data klinis yang menunjukkan kemanjuran terhadap penyakit yang mengancam jiwa dan tidak memiliki terapi yang ada.

Remdesivir adalah prodrug (suatu senyawa biologi inaktif yang akan diproses metabolisme tubuh menjadi obat) fosforamidat dari turunan adenin dengan struktur kimia yang serupa dengan tenofovir alafenamide, penghambat reverse transkriptase HIV yang disetujui. Remdesivir memiliki aktivitas spektrum luas terhadap virus RNA seperti MERS dan SARS dalam kultur sel dan model hewan, dan telah diuji dalam uji klinis untuk Ebola.


Cara kerja Remdesivir + Chloroquine (farmakodinamik) (sumber)

Remdesivir adalah suatu analog nukleotida yang pada awalnya dikembangkan sebagai potensi terapi untuk penyakit yang disebabkan infeksi virus Ebola dan virus Marburg. Namun ternyata juga selanjutnya menunjukkan aktivitas antiviral terhadap virus RNA untai tunggal (single strand)  lainnya seperti virus respiratory syncytial, virus Junin, virus Lassa fever, virus Nipah, virus Hendra, dan virus corona (termasuk virus MERS dan SARS)

Remdesivir baru-baru ini diakui sebagai obat antivirus yang menjanjikan terhadap infeksi beragam jenis virus RNA (termasuk SARS / MERS-CoV5) pada sel-sel yang dikultur, baik pada tikus maupun obyek coba primata bukan manusia / non human primate (NHP). Remdesivir merupakan suatu analog adenosin, yang dapat menggabungkan diri ke dalam rantai RNA virus yang baru lahir dan kemudian akan mengakibatkan penghentian perkembangan virus sebelum dia dewasa. Remdesivir merupakan suatu obat prodrug, yaitu obat yang harus dimetabolisir terlebih dahulu agar menjadi bahan aktif. Setelah remdesivir dimetabolisir menjadi bahan aktifnya yaitu GS-441524, yang merupakan analog nukleotida adenosin, bahan aktif ini akan membingungkan polimerase RNA virus dan menghindari pembacaan oleh viral exoribonuclease (ExoN) milik virus, yang menyebabkan penurunan dalam produksi RNA virus. Belum diketahui apakah juga terjadi pemutusan rantai RNA virus atau menyebabkan mutasi di dalamnya. Mutasi pada replikase virus RNA hepatitis tikus yang mengakibatkan resistensi parsial pernah dilaporkan pada 2008. Mutasi-mutasi ini menyebabkan virus menjadi kurang efektif di alam, yang dikatakan oleh para peneliti tidak akan terjadi andaikata obat/preparat tidak diberikan (sumber).

Pengujian waktu tambahan (time-of-addition assay) menunjukkan bahwa remdesivir berfungsi pada tahap post virus entry, yang memang cocok dan sesuai dengan mekanisme ciri khas anti-virus yang diduga sebagai analog nukleotida. Warren et al. menunjukkan bahwa pada model NHP, pemberian remdesivir 10mg / kgBB secara intravena akan menghasilkan tingkat bentuk aktif yang terus menerus dalam darah (10 μM) dan dapat memberikan perlindungan 100% terhadap infeksi virus Ebola. Data menunjukkan bahwa nilai EC90 dari remdesivir terhadap 2019-nCoV dalam sel Vero E6 adalah 1,76 μM, menunjukkan konsentrasi kerjanya kemungkinan akan dicapai pada NHP. Data awal  menunjukkan bahwa remdesivir juga menghambat infeksi virus secara efisien pada suatu biakan sel manusia  in vitro (kanker hati manusia, sel Huh-7), yang sensitif terhadap 2019-nCoV.

Chloroquine, suatu  obat anti-malaria dan autoimun yang banyak digunakan, baru-baru ini dilaporkan sebagai obat antivirus spektrum luas yang potensial. Chloroquine diketahui menghambat infeksi virus dengan meningkatkan pH endosom yang diperlukan untuk fusi virus dengan sel, juga sebagai pengganggu dengan glikosilasi reseptor seluler SARS-CoV. Uji waktu-penambahan (time-of-addition assay) menunjukkan bahwa klorokuin berfungsi pada kedua entri, dan pada tahap pasca-masuk infeksi 2019-nCoV / Covid-19 pada sel Vero E6 . Selain aktivitas antivirusnya, klorokuin memiliki aktivitas memodulasi kekebalan, yang secara sinergis meningkatkan efek antivirusnya secara in vivo. Chloroquine didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh, termasuk paru-paru, setelah pemberian oral. Nilai EC90 chloroquine terhadap 2019-nCoV dalam sel Vero E6 adalah 6,90 μM, yang secara klinis dapat dicapai seperti yang ditunjukkan pada plasma pasien rheumatoid arthritis yang menerima dosis 500 mg obat ini. Kloroquine adalah obat yang murah dan aman yang telah digunakan selama lebih dari 70 tahun dan, oleh karena itu, berpotensi secara klinis berlaku terhadap 2019-nCoV.

Temuan telah mengungkapkan bahwa remdesivir dan klorokuin sangat efektif dalam pengendalian infeksi 2019-nCoV / covid-19 secara in vitro. Karena senyawa ini telah digunakan pada pasien manusia dengan rekam jejak keselamatan dan terbukti efektif melawan berbagai penyakit, disarankan agar kedua preparat ini dinilai lebih lanjut pada pasien manusia yang menderita penyakit coronavirus yang baru ini (Covid 19).








Ini (bintik-bintik hitam) adalah penampakan coronavirus Covid-19 yang melipatganda secara cepat yang dibiakkan pada sel-sel di dalam laboratorium, yang dilakukan oleh Peter Doherty Institute for Infection and Immunity (Doherty Institute) Melbourne, Australia. Diharapkan dengan berhasilnya melihat langsung dan mengembangbiakkan secara terkontrol di dalam laboratorium dapat mempermudah mempelajari mekanisme-mekanisme cara kerja dan siklus kehidupan virus ini, bahkan turut membantu upaya dalam mengembangkan vaksin dan obat yang manjur dan tepat. Post oleh @informasikedokteran silahkan follow untuk melihat foto dan video menakjubkan lainnya dari dunia kedokteran dan kesehatan Sumber video : Doherty Institute, Melbourne, Australia #virus #coronavirus #covid19 #mikroskop #praktikum #wuhan #virology #virologi #mikrobiologi #kedokteran #dokter #kesehatan #health #medicine #medschool #rumahsakit #mahasiswa #kesehatan #puskesmas #kuliah #koas #perawat #doctor #doctorslife #sekolah #informasikesehatan #keperawatan #informasikedokteran #biologi #biology #snmptn
A post shared by Informasi Kedokteran (@informasikedokteran) on

Covid-19 memiliki kemiripan dengan HIV?

Sekelompok ilmuwan biomolekuler dari India menerbitkan sebuah paper kontroversial  yang menyatakan Covid-19 memiliki beberapa kemiripan dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Jika dilihat dari pohon filogenik komprehensif coronavirus temuan dari  ilmuwan India ini menunjukkan bahwa 2019-nCoV (Covid-19) terkait erat dengan SARS CoV. Selain itu, penelitian terbaru lainnya telah menghubungkan 2019-nCoV dengan SARS CoV. Oleh karena itu mereka membandingkan urutan lonjakan (spike) glikoprotein 2019-nCoV dengan yang berada di SARS CoV. Pada pemeriksaan hati-hati dari keselarasan urutan mereka menemukan bahwa 2019-nCoV spike glikoproteinnya mengandung 4 insersi. Untuk menyelidiki lebih lanjut jika sisipan ini terdapat pada virus korona lain, mereka melakukan penyelarasan sekuens ganda (multiple sequence alignment) dari sekuens asam amino glikoprotein dari semua virus corona yang tersedia (n = 55)  dalam NCBI refseq (ncbi.nlm .nih.gov) ini termasuk satu urutan 2019-nCoV. Mereka menemukan bahwa 4 sisipan ini [sisipan 1, 2, 3 dan 4] adalah unik untuk 2019-nCoV dan tidak ada dalam virus corona lain yang dianalisis. Kelompok lain dari Cina telah mendokumentasikan tiga insersi yang membandingkan lebih sedikit urutan lonjakan glikoprotein dari virus corona. Kelompok lain dari Cina telah mendokumentasikan tiga insersi yang membandingkan lebih sedikit urutan lonjakan glikoprotein dari coronavirus (Zhou et al., 2020).

Analisis mereka terhadap spike glikoprotein pada 2019-nCoV mengungkapkan beberapa temuan menarik: Pertama, mereka mengidentifikasi 4 sisipan unik dalam spike glikoprotein 2019-nCoV yang tidak ada dalam virus corona lain yang dilaporkan hingga saat ini. Yang mengejutkan, semua 4 sisipan dalam 2019-nCoV dipetakan ke segmen pendek asam amino dalam HIV-1 gp120 dan Gag di antara semua protein virus yang beranotasi dalam database NCBI. Kesamaan luar biasa dari insersi baru dalam protein lonjakan 2019-nCoV dengan HIV-1 gp120 dan Gag tidak mungkin menjadi kebetulan, menurut mereka. Lebih lanjut, pemodelan 3D menunjukkan bahwa minimal 3 sisipan unik yang tidak bersebelahan dalam urutan protein primer spike glikoprotein 2019-nCoV bertemu untuk membentuk suatu komponen kunci dari situs pengikatan reseptor (receptor binding site). Dari catatan, semua 4 sisipan memiliki nilai pI sekitar 10 yang dapat memfasilitasi interaksi host-virus. Secara keseluruhan, temuan mereka menunjukkan evolusi tidak konvensional 2019-nCoV yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Penelitian mereka menyoroti aspek evolusi baru pada 2019-nCoV dan memiliki implikasi pada patogenesis dan diagnosis virus ini.

Temuan ilmuwan India ini mendapatkan berbagai kritikan dan bantahan apalagi jurnal pre-print ini belum menjalani proses peer-review serta menggunakan metode yang tergesa-gesa dan memberikan asumsi insersi glikoprotein yang mirip HIV merupakan suatu proses yang disengaja bukan hanya kebetulan yang random yang juga ditemukan pada virus umum lainnya, salah satu kritikan ini berasal dari ilmuwan ahli immunologi dan mikrobiologi dari University of Texas Southwestern Medical Centre, dokter Michael Shiloh.

Walaupun sudah terjadi penarikan untuk mengkoreksi beberapa bagian namun tak ayal jurnal ini dapat menjadi bahan bakar teori, rumor, asumsi dan spekulasi yang beredar, apalagi dengan kecocokan terapi antiviral HIV dengan covid-19, serta rumor tentang asal muasal virus dari laboratorium virologi yang terdapat di Wuhan, Hubei, China.



WHO : Vaksin akan tersedia 18 Bulan lagi

Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO) mengumumkan pada Selasa (11 Februari 2020) di Geneva Swiss, bahwa butuh waktu untuk mengembangkan vaksin terhadap virus corona baru yang sekarang bernama COVID-19.

Namun, badan kesehatan internasiona tersebutl berharap dan mentargetkan memiliki vaksin yang efektif dalam waktu 18 bulan.

“Pengembangan vaksin dan terapi adalah salah satu bagian penting dari agenda penelitian. Tapi itu bukan hanya bagian itu saja.  Akan membutuhkan waktu untuk pengembangan - tetapi sementara itu, kami bukannya tidak memiliki usaha lain, ”kata Kepala WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus selama konferensi pers di kantor pusat badan tersebut.

"Vaksin pertama diharap siap dalam 18 bulan, namun kita harus melakukan segala upaya sejak hari ini menggunakan segala sumber daya yang tersedia untuk melawan virus ini, sambil mempersiapkan untuk jangka panjang," tambahnya.

Dia mencatat, bagaimanapun, bahwa meskipun WHO telah menamai virus baru itu sebagai COVID-19, masih ada banyak faktor yang tidak diketahui yang mencegah para ilmuwan menemukan penyembuhan yang tepat.

"Sulit untuk percaya bahwa hanya sekitar dua bulan yang lalu, virus ini - yang telah menarik perhatian media, pasar keuangan, dan pemimpin politik - sama sekali tidak kita kenal," imbuh Tedros.

"Untuk mengalahkan wabah ini, kami membutuhkan jawaban untuk semua pertanyaan itu dan banyak lagi," tambahnya.

Selama briefing, pejabat itu menyebut penyakit itu sebagai "musuh publik nomor satu" yang menimbulkan ancaman global, meskipun sebagian besar kasus diisolasi di Tiongkok daratan.

"Dengan 99 persen kasus di China, ini tetap (perihal) sangat darurat bagi negara itu, tetapi (juga) yang memiliki ancaman sangat besar bagi seluruh dunia," kata pejabat itu.

Sejauh ini, kata Dr. Tedros, WHO bekerja sama dengan negara-negara untuk memperkuat kapasitas laboratorium di seluruh dunia, memastikan cukupnya pasokan alat uji dan peralatan pelindung untuk petugas kesehatan dan melatih mereka untuk membantu mencegah penyebaran COVID-19 lebih lanjut.

Yang penting untuk saat ini, tambahnya, adalah agar setiap individu menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Setidaknya, jelasnya, individu harus menyadari dan sensitif tidak hanya terhadap kesehatannya sendiri tetapi juga terhadap orang-orang di sekitarnya.

"Dan kami terus memberi informasi kepada publik tentang apa yang dapat dilakukan semua orang untuk melindungi kesehatan mereka sendiri dan orang lain," katanya.

"Itu sebabnya menjangkau publik secara langsung dan memberi tahu mereka tindakan pencegahan yang harus mereka ambil," tambahnya.

Dr. Tedros mengulangi langkah-langkah pencegahan dasar yang harus dipraktikkan orang secara mendasar dan terus menerus sementara belum ada obat untuk penyakit coronavirus.

“Bersihkan tangan Anda secara teratur, baik dengan gosok berbasis alkohol atau sabun dan air. Jaga jarak Anda dari seseorang yang batuk atau bersin. Dan ketika Anda batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung Anda dengan tisu atau siku, ” demikian dikatakan Ghebreyesus dalam pernyataan penutupnya.

Update : Pada akhir Februari 2020 sebuah perusahaan firma bioteknologi asal Amerika Serikat, Moderna, setelah selama enam minggu pengembangan telah mengirimkan vaksin coronavirus potensial ke pemerintah Amerika Serikat untuk dilakukan uji selanjutnya. Vaksin ini yang dinamakan mRNA-1273, telah dikirimkan ke lembaga National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Direktur NIAID Anthony Fauci mengatakan ujicoba klinis pada manusia akan dilakukan pada bulan April. Pengembangan vaksin ini menggunakan pendekatan mRNA atau messenger RiboNucleic Acid, obat-obat ini bertujuan untuk mengarahkan sel-sel pada tubuh untuk menghasilkan protein yang akan mencegah atau memerangi patogen penyebab penyakit.

Potensi obat dan terapi untuk virus korona Covid-19 NCoV-19, Coronavirus baru yang muncul dari Wuhan, Hubei, China, laboratorium, pandemi, pandemic, senjata biologis, antivirus, HIV, AIDS, kimia


Setelah berbagai uraian di atas, kini pertanyaan yang timbul adalah, kendala ketersediaan obat, logistik dan distribusi apakah bisa memenuhi dalam waktu yang segera apalagi jika dilihat situasi tingkat penularannya yang sangat tinggi dan cepat dan sudah menjadi pandemi, bahkan pemerintah China sendiri mengatakan bahwa penularan dimungkinkan terjadi bahkan sebelum penderita menunjukkan simptom atau gejala, sehingga solusi kuratif dan preventif menyeluruh yang tepat harus dilaksanakan segera karena sedang berlomba dengan waktu.


Update Maret 2020

Favipiravir (Avigan) dapat menjadi pilihan terapi obat sementara menunggu terapi definitif

Jepang sedang mempertimbangkan untuk menggunakan Avigan, obat anti influenza yang dikembangkan oleh unit Fujifilm Holdings Corp, untuk merawat pasien virus corona baru, demikian dikatakan menteri kesehatan Katsunobu Kato.

"Kami akan melakukan semua yang kami bisa," kata Kato pada sebuah program TV, mencatat bahwa belum ada pengobatan yang ditetapkan untuk COVID-19. Obat ini juga dikenal sebagai Favipiravir.

"Kami mendengar dari luar negeri bahwa beberapa (obat-obatan) di antara mereka yang telah digunakan melawan influenza mungkin berguna," katanya.

Kato mengatakan kepada wartawan bahwa kementeriannya akan memeriksa seberapa efektif obat flu dalam memerangi penyakit ini dan, jika perlu, memungkinkan banyak lembaga medis untuk memberikannya kepada pasien.

Favipiravir, juga dikenal sebagai T-705 atau Avigan, adalah obat antivirus yang pada awalnya dikembangkan oleh Toyama Chemical of Japan (dimiliki oleh Fujifilm) dengan aktivitas melawan banyak virus RNA.

Antiviral ini adalah turunan pirazinecarboxamide yang telah terbukti efektif melawan virus influenza, virus West Nile, virus demam kuning, virus penyakit kaki-dan-mulut serta flavivirus lain, arenavirus, bunyavirus, dan alphavirus. Aktivitas melawan enterovirus dan virus demam Rift Valley juga telah dibuktikan dan memiliki kemanjuran terbatas terhadap virus Zika. Pada model tikus, itu juga terbukti efektif melawan Ebola.

Namun, favipiravir belum terbukti efektif dalam sel jalan nafas primer manusia,  sehingga meragukan kemanjurannya dalam pengobatan influenza. (sumber)

Di Cina, versi generik yang dilisensikan ke Zhejiang Hisun Pharmaceutical, dengan nama merek Favilavir telah disetujui sebagai terapi investigasi untuk mengobati virus corona.

Dokumen persetujuan Administrasi Produk Medis Nasional China mengatakan perusahaan memenuhi persyaratan untuk memproduksi versi generik Favipiravir tetapi mengharuskan untuk bekerja lebih lanjut pada penelitian farmasi dan farmakologi klinis.

Favilavir disetujui untuk pemasaran dalam pengobatan influenza.

Menurut kepala Pusat Pusat Bioteknologi Nasional China Zhang Xinmin, Favilavir menunjukkan profil yang menggembirakan dengan reaksi merugikan / efek samping ringan pada pasien coronavirus dalam percobaan di Shenzhen, provinsi Guangdong.

Perusahaan juga menerima persetujuan uji klinis oleh pemerintah, mengatakan produk tersebut disetujui untuk uji klinis pada indikasi pneumonia coronavirus baru.

Dr Zhang Xinmin, kepala Pusat Nasional China untuk Departemen Bioteknologi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, mengatakan pada konferensi pers bahwa dalam uji coba manusia yang dilakukan di Shenzhen, provinsi Guangdong, obat ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan terhadap virus corona novel dan reaksi merugikan ringan pada pasien.

Namun banyak pihak memperingatkan bahwa banyak media melaporkan bahwa obat tersebut telah disetujui untuk mengobati virus corona dan juga telah disetujui untuk produksi massal dan penjualan komersial sebagai pengobatan untuk virus corona.

Ini adalah berita palsu dan tidak benar karena obat ini hanya disetujui sebagai obat eksperimental dan masih banyak penelitian diperlukan tentang kemanjurannya dan juga reaksi toksik dan efek samping lainnya.

Banyak ahli farmasi dan virologi memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menerima Favipiravir sebagai protokol pengobatan yang dikonfirmasi sampai penelitian lebih lanjut dan uji klinis dilakukan. Lebih lanjut mereka memperingatkan bahwa coronavirus SARS-CoV-2 yang baru terus berkembang dan hingga saat ini banyak antivirus awal dan protokol pengobatan tidak lagi berfungsi karena coronavirus telah mengembangkan resistensi terhadapnya. Lebih lanjut karena toksisitas yang tinggi dari beberapa antivirus ini, mereka justru dapat memperburuk kondisi pada pasien yang dapat memanifestasikan kondisi lebih parah dan juga menyebabkan gagal ginjal dan jantung dalam uji coba tertentu. Sebagian besar antivirus awal ini hanya efektif pada mereka dengan kondisi awal dan ringan dari penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh coronavirus SARS-CoV-2 yang baru.

Meski demikian, pemerintah Indonesia diketahui cukup mempercayai obat ini hingga telah memesan untuk mengimpor dalam jumlah jutaan. Demikian dikatakan Presiden jokowi dalam suatu pernyataan pers di Jakarta.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataan tersebut memastikan belum ada antivirus yang bisa menyembuhkan wabah Corona atau virus COVID-19. Namun dia menyebut pemerintah sudah memesan jutaan obat yang bisa membantu kesembuhan.

"Ya pertama antivirus sampai sekarang belum ditemukan, tapi ada beberapa obat yang dicoba di 1, 2, 3 negara yang memberi kesembuhan," demikian kata Jokowi kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, pada tanggal 20 maret.

Jokowi mengatakan saat ini pemerintah telah memesan sejumlah obat, seperti avigan dan klorokuin, yang terbukti membantu kesembuhan. Obat tersebut, menurutnya, sudah dipesan dalam jumlah besar.

"Obat avigan kita telah mendatangkan 5.000 akan kita coba dan kita dalam proses pemesanan 2 juta, kemudian klorokuin kita siap 3 juta," ungkap Jokowi.

Favipiravir telah dikembangkan sebagai obat anti influenza dan dilisensikan sebagai obat anti influenza di Jepang. Selain itu, favipiravir sedang disimpan-cadangkan untuk 2 juta orang sebagai penanggulangan untuk strain influenza baru oleh pemerintah Jepang. Obat ini berfungsi sebagai pemutus berantai di tempat penggabungan RNA virus dan mengurangi viral load

Favipiravir memiliki mekanisme aksi yang mirip dengan asiklovir obat antiherpesvirus. Favipiravir pada sebuah percobaan menyembuhkan semua tikus dalam model infeksi influenza yang mematikan, sementara oseltamivir gagal menyembuhkan hewan tersebut. Dengan demikian, favipiravir berkontribusi untuk menyembuhkan hewan dengan infeksi mematikan. Selain influenza, favipiravir memiliki spektrum luas dari aktivitas virus anti-RNA secara in vitro dan kemanjuran dalam model hewan dengan virus RNA yang mematikan dan telah digunakan untuk pengobatan infeksi manusia dengan virus Ebola yang mengancam jiwa, virus Lassa, rabies, dan sindrom trombositopenia dengan demam berat. Fitur terbaik favipiravir sebagai agen antivirus adalah tidak adanya generasi virus yang resisten favipiravir. Favipiravir sendiri mempertahankan kemanjuran terapeutik dari pasien pertama hingga terakhir dalam beberapa pandemi influenza atau infeksi virus RNA mematikan yang epidemi. Favipiravir menjadi suatu harapan agen terapi yang penting untuk influenza berat, jenis pandemi influenza berikutnya di masa depan, dan infeksi virus RNA berat lainnya yang belum tersedia pengobatan definitif yang standar. (sumber)




Update Mei 2020

Sejauh ini dapat dirangkum beberapa terapi yang dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada pasien covid-19 di antaranya :


REMDESIVIR
Golongan obat : Antiviral.
Mekanisme kerja : Inhibisi sintesis RNA
Dosis : Dosis tunggal 200 mg pada hari pertama diikuti 100 mg sekali sehari untuk 5 sampai dengan 10 hari. NCT04292899
Efek samping : Masih dalam penyelidikan, gangguan gastrointestinal, hasil tes hepar abnormal.
Literatur yang mendukung : 
  • COVID-19: Wang et. al 2020, Holshue ML, et al. 2020, Midgley CM, 2020. Multiple clinical trials enrolling in the U.S.
  • MERS: Gordon CJ et al. 2020, Sheahan TP, et al. 2020. 
  • SARS: Sheahan TP et al. 2017,Agostini ML et al. 2018.



CHOLOROQUINE/ HYDROXYCHOLOROQUINE
Golongan obat : Antimalarial/lmmunomodulator.
Alasan penggunaan : Aktivitas in vitro terhadap Covid-19 dan sebelumnya terhadap SARS dan MERS. 
Dosis : Hydroxychloroquine: 200 mg tiga kali sehari three times daily (Gautret 2020). 
Chloroquine: 500 mg dua kali sehari (Cortegiani A 2020).
Efek samping : Retinopati, pemanjangan gelombang QT (prolongation) jantung, hasil tes hepar abnormal gangguan gastrointestinal, 
Literatur yang mendukung : 
  • COVID-19: Colson Pet al. 2020, Gao G et al. 2020, Yao X et al. 2020, Gautret et al. 2020. 
  • SARS: Biot C et al. 2006, Keyaerts et al. 2004.

Literatur yang tidak mendukung:



LOPINAVIR/RITONAVIR
Golongan obat : Antiretroviral.
Alasan pertimbangan : inhibitor/sinergistik Protease inhibitor/synergistic. 
Antiretroviral dengan aktivitas in vitro terhadap SARS dan MERS.
Dosis : 400mg/100mg Dua kali sehari untuk 10 hari
Efek samping : Ruam kulit, hiperlipidemia, hasil tes hepar abnormal, gangguan gastrointestinal.
Literatur yang mendukung
  • COVID-19: Liu F et al 2020. 'In MERS: Chan JF et al 2015.
  • SARS: Groneberg DA et al 2005.

Literatur yang tidak mendukung : 
  • COVID-19: (Cao B, et al 2020).



TOCILIZUMAB
Golongan obat : Antibodi rekombinan monoklonal pada manusia 
Alasan pertimbangan pemberian : Antagonis reseptor interleukin-6 (IL-6). (dapat mengurangi respon imun pada pasien yang parah)
Dosis : 4-8mg/KgBB sekali dapat diulangi dosis dalam 12 jam.
Efek samping : hiperlipidemia, hasil tes hepar yang abnormal, reaksi terkait infusi. 
Literatur yang mendukung :
  • COVID-19: Xu X et al 2020.



KORTIKOSTEROID
Golongan obat : anti inflamasi sistemik
Alasan pertimbangan pemberian : mengurangi respon sitokin (cytokine) dan mempercepat resolusi penyembuhan inflamasi pulmonal (paru). Reducing cytokine response and accelerate resolution of pulmonary inflammation (Villas J et al. 2016). Penelitian terbaru dari Oxford University, Inggris menemukan bahwa pemberian dexamethasone dosis rendah selama 10 hari mampu mengurangi angka kematian pasien covid-19 sampai sepertiganya. Perbaikan klinis dapat diamati pada pasien covid-19 yang mengalami gejala berat yang membutuhkan alat bantuan pernafasan, namun tidak ditemukan perbaikan pada pasien dengan gejala ringan sampai sedang (mild to moderate).

Dosis : 
  • Methylprednisolone : 40-80 mg IV setiap hari sampai 6 hari
  • Dexamethasone / deksametason : 6 mg sampai 10 hari

Literatur yang mendukung :

Literatur yang tidak mendukung : 
  • Russell CD et al. 2020, Shang L et al 2020.


TERAPI PLASMA KONVALESEN (Convalescent plasma therapy)

Para peneliti sedang menguji penggunaan darah yang disumbangkan para penyintas sebagai pengobatan untuk pasien yang masih menderita penyakit novel coronavirus (COVID-19).

Orang yang sudah pulih dari COVID-19 diduga memiliki antibodi terhadap penyakit dalam darah mereka. Darah yang didonorkan oleh mereka akan disaring dan diambil plasma yang mengandung antibodi ini, kemudian plasma ini akan ditransfusikan kepada penderita covid-19.  Teknik ini dinamakan terapi plasma konvalesen. Para peneliti berharap bahwa plasma penyembuhan dapat diberikan kepada orang-orang dengan COVID-19 parah untuk meningkatkan kemampuan mereka melawan virus. Hasil dari beberapa upaya telah menunjukkan potensi yang menjanjikan.








Beberapa laporan lainnya menunjukkan efektifitas beberapa medikamentosa seperti anti koagulan (anticoagulant) (seperti warfarin, heparin bahkan asam asetil salisilat atau aspirin ) dan mukolitik (seperti ambroxol) dalam mengurangi derajat keparahan pasien covid-19 terutama pada pasien pada taraf lanjut di ICU yang sedang mendapat bantuan alat nafas ventilator. Begitupula dengan pemberian suplementasi vitamin D3 (Cholecalciferol/ kolekalsiferol) dosis tinggi yang berfungsi sebagai immunomodulator yang diduga dapat mengontrol respon imun dan interleukin agar sistem imun dapat memerangi SARS-COV2 namun tidak sampai terjadi cytokine storm (badai sitokin). 


Sumber referensi / Daftar pustaka

0 comments:

Posting Komentar

Posting Terbaru

Silahkan Like di Facebook untuk mengikuti perkembangan artikel baru

Entri Populer

Kehidupan yang bermanfaat adalah kehidupan hebat

Ilmu adalah kunci kemajuan

Back to Top

Terima Kasih Telah Berkunjung

Pencarian untuk website ini silahkan ketik di bawah

Diberdayakan oleh Blogger.